Jumat, 15 Juli 2011


 Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi. Artinya, bahasa dapat digunakan untuk berinteraksi. Dengan menguasai berbagai bahasa, manusia bisa membuka jendela dunia. Di samping memperoleh pengalaman yang sebelumnya mungkin tidak terpikir bahkan membayangkannya. Bahasa mempunyai peranan yang sangat penting guna menuangkan ide pokok pikiran, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Ketika seseorang mengemukakan gagasan, yang perlu diperhatikan bukan hanya kebahasaan melainkan juga harus ada pemahaman. Dengan adanya pemahaman, maksud dan tujuanpun akan tersampaikan secara jelas. Setiap bahasa sebenarnya mempunyai ketetapan atau kesamaan dalam hal tata bunyi, tata bentuk, tata kata, tata makna tetapi karena berbagai faktor yang terdapat dalam masyarakat pemakai bahasa itu, seperti pendidikan, agama, bidang kegiatan, profesi, serta latar belakang budaya daerah maka bahasa itu tidak seragam benar. Bahasa itu menjadi beragam (Chaer, 2006: 3).
Analisis wacana pada hakikatnya merupakan kajian tentang fungsi bahasa atau penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi. Kridalaksana (2001:  231) mengemukakan wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dalam hierarki gramatikal, merupakan satuan lingual tertinggi atau terbesar. Lebih lanjut diterangkan, wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang untuh (novel, buku, dan, sebagainya), paragrap, kalimat, atau kata yang membawa amanat yang lengkap.
Dalam cerkak Aku Ora Mentala, Pak dalam majalah Panjebar Semangat No. 46 ini terdapat banyak sekali hal-hal yang masuk dalam kajian analisis wacana baik aspek gramatikal leksikal. Beberapa sampel data telah diambil dan dikaji, yang akan dipaparkan pembahasannya pada bagian berikut.

2.1  Aspek Gramatikal

a.      Referensi (Pengacuan)
Referensi atau pengacuan adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain (atau suatu acuan) yang mendahului atau mengikutinya. Referensi (pengacuan) ada tiga macam, yaitu pronomina persona, pronomina demonstratif, dan pengacuan komparatif. 
1) Pronomina Persona
Dalam cerpen ini banyak sekali dimunculkan suatu pengacuan persona, seperti pada data berikut.

(1)               “Bab keperluwan, dirembug mbesuk Minggu ngarep yen sliramu tindak omahku.

Penggunaan kata -ku yang diucapkan oleh tokoh Bu Adi pada kata omahku, mengacu pada dirinya (Bu Adi).

(2)               “Mboten menapa-menapa jeng, kula pancen daya-daya kepengin enggal pinanggih panjenengan.” Dhawuhe Pak Adi sekaliyan.

Berdasarkan pada data (2), kata jeng dan panjenengan yang diucapkan oleh tokoh pak Adi yang mengacu pada diri tokoh bu Diono.
(3)               “Jeng, Jeng! Panjenengan rak kersa ta kula anggep dados adhik kula?” Dhawuhe Bu Adi sumanak.

Pada data diatas terdapat kata jeng, panjenengan, dan adhik kula yang mengacu pada diri tokoh bu Diono.

(4)               “Adhuh, Panjenengan sekaliyan kersa nganggep dalem minangka adhik? Begja kemayangan sanget kula!” Ature Bu Diono.

Pada dialog data (4) terdapat kata panjenengan yang diucapkan oleh tokoh bu Diono mengacu kepada bu Adi. Dan juga pada dialog itu tokoh bu Diono menggunakan kata ganti adhik dan kula untuk mengganti dirinya.

2)      Pronomina Demonstratif
Referensi (pengacuan) yang berupa pronomina demonstrative dalam cerkak Aku Ora Mentala, Pak dalam majalah Panjebar Semangat Edisi 46 yaitu:

(5)               Dina Minggu candhake Bapak Ibu Adi Sujono, didherekake Ana-Ani, tindak menyang daleme Ibu Diono watara jam 09.00 esuk. Ibu Diono gita-gita mapagake lan matur:
“Adhuh, Bapak Ibu Adi kok tindak mriki rumiyin. Mesthinipun rak dalem ingkang kedah sowan mrika rumiyin, ingkang enem!”

Pada data (5) terdapat pronomina demonstratif waktu yaitu kata mriki yang mengacu pada rumahnnya bu Diono dan mrika yang mengacu pada rumahnya Bapak Ibu Adi.

3)      Pronomina Komparatif
Pengacuan komparatif juga tampak dalam cerita ini. Seperti terlihat dalam data berikut.

(6)               “Manawi Diani panjenengan pundhut, mesthi seneng, jalaran lajeng kopen. Nyuwun punapa-punapa keturutan. Kosok wangsulipun Ani, wonten kula mesthi sisah sanget, awit nyuwun punapa-punapa mesthi boten badhe saged keturutan, rak inggih sarwa memelas.


Dalam rangkaian kalimat tersebut terlihat adanya suatu tuturan yang bermaksud membandingkan antara Diani dan Ani.

b. Pelesapan (elipsis)
Pelesapan atau elipsis adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penghilangan atau pelesapan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya. Unsur atau satuan lingual yang dilesapkan dapat berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat.
Dalam cerkak ini terdapat beberapa pelesapan (elipsis) yang dimunculkan. Contohnya pada data (7) berikut “Mulane Jeng, bareng aku yakin yen Diani ya putramu kuwi (jalaran wis kok openi kawit bayi) iku saktemene putraku, kembarane si Ana. Dalam dialog itu ada kata yang sebenarnya ada tetapi tidak dimunculkan yaitu (jalaran wis kok openi kawit bayi). Kata yang terdapat di dalam kurung adalah kata-kata yang dilesapkan. Hal tersebut memunculkan suatu keefektifan suatu pertuturan.

c.    Perangkaian (konjungsi)
Konjungsi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan yang lain dalam wacana. Unsur yang dirangkai dapat berupa satuan lingual kata, frasa, klausa, kalimat, dan dapat juga berupa unsur yang lebih besar dari itu, misalnya alinea dengan pemarkah lanjutan, dan topik pembicaraan dengan pemarkah alih topik atau pemarkah disjungtif.
Penggunaan konjungsi sangat banyak sekali digunakan dalam naskah ini. Terdapat konjungsi pertentangan, pengecualian, tujuan, harapan dan sebagainya. Cukup banyak terlihat penggunaan berbagai penggunaan jenis konjungsi. Untuk contohnya pada data berikut.
(8)               “Aku karo Ani, sing maune dak anggep kembarane Ana, sing sejatine Ani iku putramu, rehne wis dak openi wiwit bayi cenger ya ora mungkin bisa pisah. Rasane wus ora beda karo rasaku marang Ana. Dene titikane yen iku putramu, priksanana praenane Ani rak 90% kapara luwih, padha karo pasuryane almarhum keng raka Dhik Diono.”
(9)               “Mboten ta Kangmas, Mbakyu, dalem nyuwun priksa punapa ta sababipun panjenengan sekaliyan sanget-sanget nggatosaken dhateng dalem lan gendhuk Diani. Mugi panjenengan kepareng ngendika bares dhateng dalem.”


2.2  Aspek Leksikal

Kohesi leksikal adalah hubungan antar unsur dalam wacana secara semantis. Hubungan kohesif yang diciptakan atas dasar aspek leksikal, dengan pilihan kata yang serasi, menyatakan hubungan makna atau relasi semantik antara satuan lingual yang satu dengan satuan lingual yang lain dalam wacana. Kohesi leksikal dalam wacana dapat dibedakan menjadi enam macam, yaitu (a) repetisi (pengulangan), (b) sinonimi (padan kata), (c) kolokasi (sanding kata), (d) hiponimi (hubungan atas-bawah), (e) antonimi (lawan kata), dan (f) ekuivalensi (kesepadanan).

a.   Repetisi (pengulangan)
            Repetisi atau pengulangan adalah pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat) yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Berdasarkan tempat satuan lingual yang diulang dalam baris, klausa atau kalimat, repetisi dibedakan lagi menjadi delapan macam, yaitu repetisi epizeuksis (pengulangan satuan lingual yang penting beberapa kali secara berturut-turut), tautotes (pengulangan satuan lingual, sebuah kata, beberapa kali dalam sebuah konstruksi), anafora (pengulangan satuan lingual berupa kata atau frasa pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya), epistrofora (pengulangan satuan lingual kata/frasa pada akhir baris dalam puisi atau akhir kalimat dalam prosa), sinekdoke (pengulangan satuan lingual pada awal dan akhir beberapa baris/kalimat berturut-turut), mesodiplosis (pengulangan satuan lingual di tengah-tengah baris atau kalimat secara berturut-turut), epanalepsis (pengulangan satuan lingual yang kata/frasa terakhir dari baris/kalimat itu merupakan pengulangan kata/frasa pertama), dan anadiplosis (pengulangan kata/frasa terakhir dari baris/kalimat itu menjadi kata/frasa pertama pada baris/kalimat berikutnya).
            Dalam cerkak ini banyak sekali pengulangan kata maupun frasa. Contohnya yaitu:

(10)           …, Bu Diono lan Diani diarep-arep rawuh ing daleme Bu Adi ing kutha Ponorogo.
Bareng wis rawuh ing ndalem, Pak Adi sekaliyan lenggahan ana ing ruwang tamu, dene Ana-Ani padha resik-resik dalem ana mburi.

(11)           Dina, tanggal, sasi, la nana Panti bersalin Kutha Ponorogo.
Begitu pula dalam kalimat (11) terdapat pengulangan. Namun, disini hanya dituliskan contoh nya saja, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam lampiran.
(12)           …bayi-bayi kuwi lan ibune, ana lindhu gedhe, nganti kabeh pasien sing lagi babaran lan bayi-bayine dening para perawat lan bidhan…

b.      Sinonimi
Sinonimi dapat diartikan sebagai nama lain untuk sebuah benda atau hal yang sama; atau ungkapan yang maknanya kurang lebih sama dengan ungkapan lain. Sinonimi merupakan salah satu aspek leksikal untuk mendukung kepaduan wacana. Berdasarkan wujud satuan lingualnya, sinonimi dapat dibedakan menjadi lima macam, yaitu (1) sinonimi antar morfem (bebas) dengan morfem (terikat), (2) kata dengan kata, (3) kata dengan frasa atau sebaliknya, (4) frasa dengan frasa, (5) klausa/kalimat dengan klausa/kalimat.
Suatu sinonimi juga beberapa digunakan dalam naskah ini. Seperti penggunaan kata putraku dan anakku yang mempunyai arti sama digunakan beberapa kali dalam cerkak ini.

c.       Antonimi (lawan kata)
Antonimi dapat diartikan sebagai nama lain untuk benada atau hal yang lain; atau satuan lingual yang maknanya berlawanan beroposisi dengan satuan lingual yang lain. Berdasarkan sifat oposisi makan dapat dibedakan menjadi lima macam, yaitu (1) oposisi mutlak (contoh: hidup-mati), (2) oposisi kutub (contoh: kaya-miskin), (3) oposisi hubungan (contoh: bapak-ibu), (4) oposisi hirarkial (contoh: kilogram-ton), (5) oposisi majemuk (contoh: berdiri-jongkok-duduk-berbaring).
            Dalam cerkak ini terdapat antonimi yaitu bapak-ibu, sepuh-enem, mbakyu-adhi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam lampiran.

d.      Kolokasi (sanding kata)

            Kolokasi adalah asosiasi tertentu dalam menggunakan pilihan kata yang cenderung digunakan secara berdampingan. Kata-kata yang berkolokasi adalah kata-kata yang cenderung dipakai dalam suatu domain atau jaringan tertentu, misalnya dalam jaringan pendidikan akan digunakan kata-kata yang berkaitan dengan masalah pendidikan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Misalnya kata sawah, petani, lahan, bibit padi, sistem pengolahan, panen, dan hasil panen akan sering dijumpai dalam jaringan pertanian.
            Cerkak ini memuat nada dasar tentang anak yang tertukar. Bentuk kolokasi yang muncul yaitu suatu kolokasi kaitannya dengan keluarga, seperti penggunaan kata perkawinan, suami,  isteri, anak, dan lain-lain.Sangat kental sekali memang kolokasi kata-kata yang berkaitan dengan keluarga yang terlihat sangat mendukung cerita yang dimunculkan oleh pengarang. Suatu bentuk kolokasi yang cukup tepat sesuai dengan tema cerita.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.
Sumarlam (ed). 2005. Analisis Wacana. Surakarta : UNS Press.
Aminuddin. 2002. Analisis Wacana Dari Linguistik Sampai Dekonstruksi. Yogyakarta: Kanal.
Hartono, Bambang. 2000. Kajian Wacana Bahasa Indonesia. Semarang: FBS UNNES.
Pramono, Sidik. 2008. Aku Ora Mentala, Pak 2 dalam Panjebar Semangat Tanggal 15 November 2008 No.46.