Sabtu, 09 April 2011

Wujud Kebudayaan Dalam Ritual Baratan di Jepara


1.1  Latar Belakang

Kebudayaan adalah hasil karya manusia yang diperolehnya dengan cara belajar. Dalam pengalaman dan proses belajar, manusia memperoleh serangkaian pengetahuan mengenai simbol-simbol. Dengan adanya simbol-simbol tersebut, kebudayaan dapat dikembangkan karena suatu peristiwa atau benda dapat dipahami oleh sesama warga masyarakat hanya dengan menggunakan satu istilah saja (Yan Mujianto.dkk, 2010: 4).
Kebudayaan sangat erat dengan masyarakat. Menville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski (dalam Yan Mujianto.dkk, 2010: 2) mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki manusia itu sendiri. Masyarakat Indonesia misalnya memiliki kebudayaan yang sangat beranekaragam. Masing-masing pulau dan suku yang ada di Indonesia memiliki karakteristik budaya tersendiri, yang merupakan ciri masing-masing daerah tersebut.
Berkaitan dengan kebudayaan yang ada dimasyarakat, dalam hal ini penulis akan membahas tentang salah satu unsur kebudayaan yang berada di daerahnya. 

2.1  Unsur-Unsur Kebudayaan

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
1.      Menville J. Herskovits (dalam Yan Mujianto.dkk, 2010: 10) menyebutkan bahwa kebudayaan memiliki 4 unsur pokok yaitu:
a.       alat-alat teknologi
b.      sistem ekonomi
c.       keluarga
d.      kekuasaan politik
2.      Bronislaw Malinowski (dalam Yan Mujianto.dkk, 2010: 10) mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
a.       sistem norma yang memnungkinkan kerjasama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
b.      organisasi ekonomi
c.       alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan ( keluarga adalah lembaga pendidikan utama )
d.      organisasi kekuatan
3.      Koentjaraningrat (2002: 2) mengatakan bahwa unsur-unsur kebudayaan yang universal terbagi menjadi 7 yaitu:
a.       sistem religi dan upacara keagamaan
b.      sistem dan organisasi kemasyarakatan
c.       sistem pengetahuan
d.      bahasa
e.       kesenian
f.       sistem mata pencaharian hidup
g.      sistem teknologi dan peralatan
2.2 Ketiga wujud kebudayaan yang ada dalam ritual baratan didaerah Kalinyamatan Jepara.
Ritual Baratan diperingati pada tanggal 15 Sya’ban atau Ruwah/ bertepatan dengan malam Nishfu Sya’ban, karena malam Nishfu Sya’ban berkaitan dengan pergantian buku catatan amal baik dan buruk, maka ritual Baratan ini dapat pula dikatakan sebagai ajang evaluasi diri.
Baratan berasal dari kata arab baratan yang berarti terbebas (dari kekhilafan) setelah memohon ampun. Hal-hal yang perlu ada dalam ritual Baratan ini adalah:
a.         Makanan Puli
Yaitu semacam gendar yang terbuat dari nasi. Puli berasal dari Bahasa arab yaitu afwu lii, yang berarti maafkanlah aku.  
b.         Lampu lampion
Lampionnya dapat berupa: Impes yaitu jika berbentuk silinder dan berkerut, bentuk-bentuk binatang, dan berupa bus, pesawat, ataupun yang lain.
Dalam hal ini makanan puli dan lampu lampion merupakan syarat yang harus ada dalam ritual Baratan. (http://tradisi-baratan-di-jepara-ada-pawai-lampion.htm)
Menurut Koentjaraningrat (2002: 5) wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga yaitu:
1.    Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
2.    Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3.    Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Wujud pertama kebudayaan yang berupa gagasan yaitu Baratan merupakan tradisi yang mengangkat pernik kehidupan di masa pemerintahan Ratu Kalinyamat dan Suaminya Sultan Hadirin. Para tetua mempunyai gagasan bahwa tradisi Baratan ini harus selalu ada karena mengandung nilai sosial budaya yang tinggi, terdapat pelajaran dan hikmah didalamnya sehingga dapat dijadikan pijakan menjadi manusia yang lebih baik.
Wujud kedua kebudayaan yang sering disebut sistem sosial, mengenai kelakuan berpola dari manusia. Sistem ini terdiri dari aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, dan bergaul satu sama lain dari tahun ke tahun dan berpola gotong-royong, toleransi, serta saling membantu untuk mempersiapkan dan menjaga kelangsungan tradisi Baratan tersebut.
Wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik dan sifatnya paling konkret. Dalam hal ini kebudayaan berupa makanan puli, lampu-lampu lampion, dan arak-arakan Ratu Kalinyamat. 
Ketiga wujud kebudayaan tersebut sangat erat kaitannya dan tidak dapat terpisahkan. Contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan ( aktivitas ) dan benda-benda hasil karya manusia.

3.1  Simpulan

Kebudayaan merupakan hasil karya manusia yang diperolehnya dengan cara belajar. Unsur-unsur kebudayaan menurut Menville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski dibedakan menjadi 4, sedangkan menurut koentjaraningrat dibedakan menjadi 7 unsur universal.
Wujud pertama kebudayaan dalam ritual Baratan yaitu pemikiran para tetua bahwa tradisi Baratan ini harus selalu ada karena mengandung nilai sosial budaya yang tinggi, terdapat pelajaran dan hikmah didalamnya sehingga dapat dijadikan pijakan menjadi manusia yang lebih baik.
Wujud  kedua kebudayaan dalam ritual Baratan yaitu mengenai kelakuan berpola dari manusia.
Wujud ketiga kebudayaan dalam ritual Baratan yaitu berupa makanan puli, lampu-lampu lampion, dan arak-arakan Ratu Kalinyamat. 

3.2  Saran

Dengan adanya penulisan makalah ini, penulis berharap semoga dapat memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan mengenai unsur-unsur kebudayaan dan wujud kebudayaan yang ada dalam ritual Baratan.  Selain itu penulis juga memberikan saran kepada warga masyarakat Kalinyamatan dan pembaca agar dapat menjalankan dan mempertahankan tradisi/ritual yang telah ada dengan sebaik-baiknya untuk menjaga kelestariannya serta menumbuhkan rasa iman dan takwa kepada Allah tanpa ada rasa syirik dan melenceng dari nilai-nilai agama.

DAFTAR PUSTAKA

Mujianto, Yan.dkk.  2010. Pengantar Ilmu Budaya. Yogyakarta: Pelangi Publishing.
Koentjaraningrat. 2002. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Tresno. Baratan. http://BARATAN%20%C2%AB%20Tresno%20Atine.htm (diunduh 4 November 2010).


Semantik Budaya Dalam Upacara Adat Grebeg Besar di Daerah Demak


1.1  Latar Belakang

Semantik adalah studi suatu pembeda bahasa dengan hubungan proses mental atau simbolisme dalam aktivitas bicara (Ency Brintanica,1965).  Hubungan antara bahasa dan proses mental dapat dinyatakan dengan beberapa cara. Ada yang menyatakan bahwa proses mental tidak perlu dipelajari karena membingungkan adapula yang menyatakan harus dipelajari secara terpisah. Lepas dari sematik tanpa menyinggung proses mental, tanpa menyinggung hal tersebut seseorang dapat mengerti sesuatu yang terjadi melalui bahasa.
Berlainan dengan tataran analisis bahasa lain, semantik adalah cabang imu linguistik yang memiliki hubungan dengan Imu Sosial, seperti sosiologi dan antropologi. Bahkan juga dengan filsafat dan psikologi. Hubungan semantik dengan tataran ilmu yang lain menghasilkan suatu ilmu baru. Misalnya saja hubungan semantik dengan sosiologi yang menghasilkan ilmu semantik sosiologi. Begitupula semantik dengan budaya yang ada dimasyarakat menghasilkan semantik budaya.
Negara Indonesia memiliki budaya yang beraneka ragam. Tiap suku dan daerah memiliki budaya dan karakteristik masing-masing. Begitu pula dengan upacara adat, tiap daerah memiliki adat atau upacara yang berbeda-beda dengan fungsi-fungsi tertentu didalamnya.
Upacara-upacara yang ada dimasyarakat sangat bervariatif. Misalnya saja upacara Grebeg Besar yang memiliki makna dan fungsi tertentu didalam masyarakat. Untuk dapat mengetahui makna dan fungsi yang terdapat dalam upacara adat Grebeg Besar tersebut. Baiklah jika ada kajian mengenai upacara tersebut. Untuk itu, penulis akan berusaha mengkaji mengenai semantik budaya dalam upacara adat Grebeg Besar di daerah Demak.

2.1  Pengertian Semantik dan Hubungan Semantik dengan Semantik Budaya

Secara etimologis, semantik merupakan istilah dalam bahasa Indonesia. Istilah semantik berasal dari bahasa Inggris yaitu Semantics.  Kedua istilah itu (Semantik dan Semantics) bila dilihat bentuknya masih menunjukkan kemiripan. Kemiripan tersebut memang benar, karena keduanya tidak persis sama. Apabila dilihat perubahannya, maka istikah dari bahasa Inggris itu mengalami perubahan bentuk setelah menjadi bahasa Indonesia. Adapun makna yang didukungnya yaitu menunjukkan kesamaan. Semantik berarti ilmu kata (pengetahuan mengenai seluk beluk dan pergeseran arti kata-kata) (KUBI, 1985), dan semantics=the study of meaning ( Websterts Third New International Dictionary ).
Beberapa pendapat ahli mengenai semantik adalah sebagai berikut.
1.    Semantik adalah cabang sistemik bahasa yang menyelidiki makana kata atau arti ( Verhar, 1983: 9 ).
2.    Semantik adalah ilmu kata ( Fokker, 1985 ).
3.    Semantik adalah cabang linguistik yang bertugas semata-mata meneliti makna kata, bagaimana mula-mulanya, bagaimana perkembangannya, dan apa sebab-sebabnya terjadi perubahan makna dalam sejarah bahasa ( Muljana, Slamet, 1964: 1 ).
4.    Semantik adalah tata bahasa yang meneliti makna dalam bahasa tertentu, mencari asal mula dan perkembangan dari suatu kata ( Keraf, Gorys, 1984: 129 ).
5.    Harimurti Kridalaksana (1982: 149) mengatakan bahwa Semantik adalah
a.       Bagian dari struktur bahasa yang berhubungan dengan makna dari ungkapan dan juga dengan struktur makna suatu perkataan.
b.      Sistem penyelidikan makna dan arti dalam suatu bahasa atau bahasa pada umumnya.
6.    Semantik adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah makna ( Sarju SM, 1982: 98 ).
7.    Semantik adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki makna kata-kata umumya, tetapi juga arti kata-kata dalam berbagai bahasa tertentu dan juga perkembangan-perkembangan antara arti-arti ttu dan perubahan arti kata-kata itu dari zaman ke zaman ( Ensiklopedi Indonesia, Sandung hal.1230 ).
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa semantik adalah kajian mengenai makna satuan lingual (kata atau kalimat), dengan satuan analisisnya berupa arti atau makna.
Dalam kenyataannya, pengertian semantik tidak hanya menjadi perhatian dalam linguistik saja, namun ilmu semantik juga telah dimanfaatkan oleh ilmu lain (selain linguistik). Hubungan Semantik dengan tataran Ilmu Sosial lain
berlainan dengan tataran analisis bahasa lain, semantik adalah cabang imu linguistik yang memiliki hubungan dengan Ilmu sosial, seperti sosiologi dan antropologi. Bahkan juga dengan filsafat dan psikologi.
Semantik secara luas dapat ditemukan adanya semantik budaya. Semantik sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang makna kata atau kalimat. Sedangkan Kebudayaan merupakan seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya, dan karena itu hanya bisa dicetuskannya setelah melalui suatu proses belajar.
Sehingga Semantik budaya yaitu Semantik yang mempelajari tentang budaya yang ada di dalam suatu masyarakat. Semantik dianggap berkepentingan dengan kultural/ budaya dikarenakan analisis makna pada sebuah bahasa melalui budaya suatu masyarakat penuturnya.
Misalnya Upacara adat Grebeg Besar, Sedekah Bumi, Sedekah Laut, dan lain-lain.
Dalam analisis semantik, bahasa bersifat unik dan memiliki hubungan yang erat dengan budaya masyarakat penuturnya. Maka, suatu hasil analisis pada suatu bahasa, tidak dapat digunakan untuk menganalisi bahasa lain.
2.2 Asal mula diadakannya Upacara adat Grebeg Besar di daerah Demak
Demak merupakan kerajaan Islam pertama dipulau jawa dengan rajanya Raden Fatah. Disamping sebagai pusat pemerintahan, Demak sekaligus menjadi pusat penyebaran agama Islam dipulau Jawa. Bukti peninggalan sejarah masih berdiri dengan kokoh sampai sekarang, yaitu Masjid Agung Demak.
Penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dimulai pada abad XV dan dipelopori oleh Wali Sanga, bahkan salah satu wali tersebut bermukim sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Kadilangu Demak, yaitu Sunan Kalijaga. Menurut cerita, Kadilangu semula adalah daerah perdikan sebagai anugrah dari Sultan Fatah kepada Sunan Kalijaga atas jasa-jasanya dalam mengembangkan agama Islam dan memajukan kerajaan Demak.
Berbagai upaya dilakukan oleh para Wali dalam menyebarluaskan agama Islam. Berbagai halangan dan rintangan menghadang, salah satu diantaranya adalah masih kuatnya pengaruh Hindu dan Budha pada masyarakat Demak pada waktu itu. Pada akhirnya agama Islam dapat diterima masyarakat melalui pendekatan pendekatan para Wali dengan jalan mengajarkan agama Islam melalui kebudayaan atau adat istiadat yang telah ada. Setiap tahun Kabupaten Demak memiliki kegiatan Grebeg Besar yang rutin dilakukan dalam rangka memelihara kebudayaan leluhur. Tak bisa disangkal lagi bahwa kegiatan tersebut mampu membangkitkan semangat dan kebanggaan warga Kabupaten Demak. Karena dari kegiatan tersebut terpancar akan kejayaan Kerajaan Demak pada masa lalu. Sehingga tidak mengherankan jika kemudian upacara Grebeg Besar masih berlangsung sampai saat ini dan menjadi semacam ritual yang selalu di nantikan orang,  tidak hanya oleh warga Kota Wali sendiri tetapi juga oleh masyarakat luar daerah.
Menurut data sejarah, tradisi Grebeg Besar sebenarnya pada awalnya tidak hanya sekali setahun pada saat Idul Adha. Semula ada empat Grebeg Besar, yaitu Grebeg Maulid, Grebeg Dal, Grebeg Syawal, dan Grebeg Besar.  Kegiatan yang masih berlangsung adalah Grebeg Besar yang sampai sekarang masih menjadi bagian tradisi bernilai ’’jual’’. Sementara di luar Kabupaten Demak ada peristiwa sejenis di Solo, Yogyakarta, dan Cirebon.
2.3  Makna yang terkandung dalam upacara adat Grebeg Besar yang diadakan di daerah Demak dalam kaitannya dengan Semantik Budaya
Setiap tanggal 10 Dzulhijah umat Islam memperingati Hari Raya Idul Adha dengan melaksanakan Sholat Ied dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban. Pada waktu itu, dilingkungan Masjid Agung Demak diselenggarakan pula keramaian yang disisipi dengan syiar-syiar keagamaan, sebagai upaya penyebarluasaan agama Islam oleh Wali Sanga. Sampai saat ini kegiatan tersebut masih tetap berlangsung, bahkan ditumbuh kembangkan.
Prosesi Grebeg Besar Demak (Rangkaian Kegiatan) meliputi.
·       Ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak & Sunan Kalijaga
Grebeg Besar Demak diawali dengan pelaksanaan ziarah oleh Bupati, Muspida dan segenap pejabat dilingkungan Pemerintah Kabupaten Demak. masing-masing beserta istri/suami, ke makam Sultan-Sultan Demak dilingkungan Masjid agung Demak dan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu. Kegiatan ziarah tersebut dilaksanakan pada jam 16.00 WIB; kurang lebih 10 (sepuluh) hari menjelang tanggal 10 Dzulhijah.
·       Pasar Malam Rakyat di Tembiring Jogo Indah
Untuk meramaikan perayaan Grebeg Besar di lapangan Tembiring Jogo Indah digelar pasar malam rakyat yang dimulai kurang lebih 10 (sepuluh) hari sebelum hari raya Idul Adha dan dibuka oleh Bupati Demak setelah ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak dan Sunan Kalijaga.
Pasar malam tersebut dipenuhi dengan berbagai macam dagangan, mulai dari barang barang kebutuhan sehari-hari sampai dengan mainan anak, hasil kerajinan, makanan/minuman, permainan anak-anak dan juga panggung pertunjukkan /hiburan.
·       Selamatan Tumpeng Sanga
Selamatan Tumpeng Sanga dilaksanakan pada malam hari menjelang hari raya Idul Adha bertempat di Masjid Agung Demak. Sebelumnya kesembilan tumpeng tersebut dibawa dari Pendopo Kabupaten Demak dengan diiringi ulama, para santri, beserta Muspida dan tamu undangan lainnya menuju ke Masjid Agung Demak. Tumpeng yang berjumlah sembilan tersebut melambangkan Wali Sanga. Selamatan ini dilaksanakan dengan harapan agar seluruh masyarakat Demak diberikan berkah keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat dari Allah SWT. Acara selamatan tersebut diawali dengan pengajian umum diteruskan dengan pembacaan doa. Sesudah itu kepada para pengunjung dibagikan nasi bungkus. Pembagian nasi bungkus tersebut dimaksudkan agar para pengunjung tidak berebut tumpeng sanga. Sejak beberapa tahun terakhir tumpeng sanga tidak diberikan lagi kepada para pengunjung dan sebagai gantinya dibagikan nasi bungkus tersebut.
Pada saat yang sama di Kadilangu juga dilaksanakan kegiatan serupa, yaitu Selamatan Ancakan, selamatan terebut bertujuan untuk memohon berkah kepada Allah SWT agar sesepuh dan seluruh anggota Panitia penjamasan dapat melaksanakan tugas dengan lancar tanpa halangan suatu apapun juga serta untuk menghormati dan menjamu para tamu yang bersilaturahmi dengan sesepuh.
·       Sholat Ied (Idul Fitri)
Pada tanggal 10 Dzulhijah Masjid Agung dipadati oleh umat Islam yang akan melaksanakan Sholat Ied, pada saat-saat seperti ini Masjid Agung Demak sudah tidak dapat lagi menampung para jamaah, karena penuh sesak dan melebar ke jalan raya, bahkan sebagian melaksanakan sholat di alun-alun. Pada kesempatan tersebut Bupati Demak beserta Muspida melaksanakan sholat di Masjid Agung Demak dan dilajutkan dengan penyerahan hewan qurban dari Bupati Demak kepada panitia.
·       Penjamasan Pusaka Peninggalan Sunan Kalijaga
Setelah selesai Sholat Ied di makam Sunan Kalijaga, Kadilangu, dilaksanakan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga. Kedua pusaka tersebut adalah Kutang Ontokusuma dan Keris Kyai Crubuk. Konon Kutang Ontokusumo adalah berujud ageman yang dikiaskan pegangan santri yang dipakai sunan kalijaga setiap kali berdakwah.
Penjamasan pusaka-pusaka tersebut didasari oleh wasiat sunan kalijaga sebagai berikut, “agemanku, besuk yen aku wis dikeparengake sowan ingkang Maha Kuwaos, salehna neng duwur peturonku. Kajaba kuwi sawise iku kukut, agemanku jamas ana.” Dengan dilaksanakan penjamasan tersebut, diharapkan umat Islam dapat kembali ke fitrahnya dengan mawas diri/mensucikan diri serta meningkatkan iman dan taqwa Kepada allah SWT.
 Prosesi penjamasan tersebut diawali dari Pendopo Kabupaten Demak, dimana sebelumnya dipentaskan pagelaran tari Bedhoyo Tunggal Jiwo. Melambangkan “Manunggale kawula lan gusti”, yang dibawakan oleh 9 (sembilan) remaja putri. Dalam perjalanan ke Kadilangu minyak jamas dikawal oleh bhayangkara kerajaan Demak Bintoro “Prajurit Patangpuluhan” dan diiringi kesenian tradisional Demak. Bersamaan dengan itu Bupati beserta rombongan menuju Kadilangu dengan mengendarai kereta berkuda.
Penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga dilaksanakan oleh petugas dibawah pimpinan Sesepuh Kadilangu di dalam cungkup gedong makam Sunan Kalijaga Kalijaga. Sesepuh dan ahli waris percaya, bahwa ajaran agama Islam dari Rasulullah Muhammad SAW dan disebar luaskan oleh Sunan Kalijaga adalah benar. Oleh karena itu penjamasan dilakukan dengan mata tertutup. Hal tersebut mengandung makna, bahwa penjamas tidak melihat dengan mata telanjang, tetapi melihat dengan mata hati. Artinya ahli waris sudah bertekad bulat untuk menjalankan ibadah dan mengamalkan agama Islam dengan sepenuh hati.
Dengan selesainya penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga tersebut, maka berakhir pulalah rangkaian acara Grebeg Besar Demak.
Makna yang terdapat dengan diadakannya upacara Grebeg Besar dalam kaitannya dengan semantik budaya adalah sebagai berikut:
a.    Suatu bentuk ucapan syukur kepada Sang Pencipta dengan meningkatkan iman dan takwa.
b.    Bentuk penghargaan terhadap para pendahulu yang telah berjasa kepada daerah Demak.
c.    Memohon berkah kepada Allah SWT agar sesepuh dan seluruh masyarakat diberi ketentraman dan kelancaran dalam melaksanakan tugasnya.
d.   Terjaganya dua kaidah dasar dalam kehidupan masyarakat Jawa yaitu Prinsip Rukun, dan Hormat. Prinsip rukun, yaitu untuk mewujudkan dan mempertahankan masyarakat dalam keadaan yang harmonis, yaitu tenang, selaras, tenang, tentram, dan bersatu saling membantu. Dan prinsip hormat yaitu saling menghormati dalam kehidupan, dan mengatur pola interaksi sosial dalam masyarakat Jawa.
e.    Umat Islam dapat kembali ke fitrahnya dengan mawas diri/mensucikan diri serta meningkatkan iman dan taqwa Kepada allah SWT.
f.     Dalam acara Tumpeng Sembilan selalu di penuhi oleh warga masyarakat yang ingin ngalap  berkah dengan mengharap mendapat bagian dari tumpeng yang dibagikan tersebut. Tepat pada tanggal 10 Dzulhijjah diadakan acara penjamasan Kutang Ontokusuma yang di mulai setelah selesai  Shalat Idul Adha. Khusus untuk acara penjamasan Kutang Ontokusuma melalui prosesi arak-arakan Prajurit Patang Puluhan yang berjalan dari Pendopo Kabupaten Demak menuju Kadilangu sejauh 2,5 km. Ini adalah Sebuah hal yang sangat menarik karena merupakan suatu gambaran yang nyata peristiwa menyatunya pejabat dengan rakyat dalam satu tempat sehingga tampak sebuah kerukunan dan kebersamaan langkah untuk menggapai cita- cita.
g.    Bila zaman dahulu diadakan ritual mampu menghilangkan  marabahaya, maka untuk saat ini pandangan tersebut perlu diubah menjadi sebuah konsep yang modern, yaitu mencari alternatif penyelesaian masalah dengan cara koordinasi  dan konsolidasi pemerintah dengan masyarakat.
h.    Menjaga watak religius masyarakat Kabupaten Demak yang selalu menghormati ajaran dan tradisi leluhur, khususnya para Wali tentang keimanan dan ketakwaan. Bukan hanya sekadar menjalankan ajaran wajib dalam agama tetapi juga tradisi dan budaya Islami yang di kembangkan para Wali untuk menarik perhatian dan membawa masyarakat waktu itu untuk mengikuti ajaran yang mereka sebarkan.
i.      Ada kepercayaan pameo yang mengatakan, barang siapa menghadiri Grebeg Besar Demak tujuh kali berturut-turut, sama nilainya dengan telah melaksanakan Ibadah Haji.

3.1  Simpulan

Upacara Grebeg besar di daerah Demak diadakan setiap tanggal 10 Dzulhijah. Dalam pelaksanaan upacara tersebut terdapat makna-makna didalamnya. Yaitu salah satunya sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. Makna-makna dalam budaya tersebutlah yang dikaji penulis dalam makalah ini. Berkaitan dengan hal diatas, penulis mengkaji Grebeg besar dalam tataran Semantik Budaya. Semantik dan Budaya dapat berdiri sendiri-sendiri. Namun, Semantik juga berhubungan dengan ilmu-ilmu sosial yang lain, salah satunya adalah dengan budaya/kultur suatu masyarakat sehingga terwujud Semantik Budaya. Semantik Budaya yaitu cabang linguistik yang mengkaji makna yang ada dalam budaya didalam suatu masyarakat tertentu.

3.2  Saran

Dengan adanya penulisan makalah ini, penulis berharap semoga dapat memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan mengenai Grebeg Besar.  Selain itu penulis juga memberikan saran kepada seluruh warga khususnya masyarakat Demak dan pembaca agar dapat menjalankan dan mempertahankan tradisi yang telah ada dengan sebaik-baiknya dengan menumbuhkan rasa iman dan takwa kepada Allah tanpa ada rasa syirik dan melenceng dari nilai-nilai agama.



DAFTAR PUSTAKA

Perpustakaan Kabupaten Demak.
Widodo. 2007. Handout Semantik Bahasa Jawa .
Fokker. 1985. Semantik (Semasiologi). Yogyakarta: IKIP Sanata Darma.
Keraf, Gorys. 1984. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia.
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia.
Sardju. 1982. Pengantar Linguistik Umum. Surakarta: Fakultas Sastra UNS.
Muldjana, Slamet. 1964. Semantik (Ilmu Makna). Jakarta: Djambatan.
Verhaar. 1983. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University press.
Jamal, Blog. 2008. Grebeg Besar Demak. http://www.kudusterkini.com/Lomba-Menulis/tradisi-grebeg-besar-di-kabupaten-demak.html. (dinduh Selasa, 30 November 2010 pukul 12.10 WIB).
Morisan, M.A. 2009. Teori Komunikasi Organisasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta.
(diunduh Kamis, 2 Desember 2010 pukul 09.38).


Jumat, 08 April 2011

Bahasa dan Gender (Sex)




1.1 Latar Belakang
Sosiolinguistik menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakaian bahasa itu dalam masyarakat, sehingga memandang bahasa sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi. Pemakaian bahasa (langusge Use) merupakan bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam situasi kongkret (Apple, 1976:9). Dengan demikian bahasa tidak hanya sebagai gejala individual, tetapi juga sebagai gejala sosial.
            Sebagai gejala sosial bahasa dan pemakaian bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor linguistik, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan situasional. Faktor sosial misalnya: status sosial, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi, jenis kelamin, dsb. Faktor situasional misalnya: siapa yang berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa. 
Aspek pembeda kebahasaan yang tidak selalu ada dalam bahasa, yaitu jenis kelamin. Menurut penelitian memang ada sejumlah masyarakat tutur pria dengan tutur wanita. Dalam penelitian-penelitian linguistik kadang-kadang wanita tidak dipakai sebagai informan karena alasan-alasan tertentu. Seks dalam bab ini dimaksudkan adalah jenis kelamin penutur suatu bahasa. Dalam pemakaian bahasa hubungan antara bahasa, kosa kata, dan jenis kelamin penuturnya dapat ditinjau secara sosiolinguistik.
Dalam pemakaian bahasa hubungan antara bahasa, kosakata dan jenis kelamin penuturnya dapat ditinjau secara sosiolinguistik. Aspek pembeda kebahasaan yang tidak selalu ada dalam bahasa yaitu jenis kelamin. Berdasarkan penelitian terdapat sejumlah masyarakat tutur pria yang berbeda dengan masyarakat tutur wanita.
           

2.1. Penelitian di Indonesia Tentang Bahasa dan Gender
            Penelitian ragam bahasa pria dan wanita di Indonesia belum banyak dilakukan. Salah satu diantara yang sedikit adalah penelitian Multamia Lauder dan Basuki Sahardi (1988) tentang sikap kebahasaan kaum wanita di sebagian kota Jakarta. Ubahan (variabel) yang diteliti adalah usia, pekerjaan, pendidikan, lama tinggal di Jakarta, status, dan ini dikaitkan dengan sikap-sikap bahasa mereka, lalu dilihat perbedaan sikap itu pada pria san wanita.
            Secara umum dapat dikatakan sikap kebahasan wanita cenderung mendua. Artinya, ada semacam kontroversi atau pertentangan sikap. Di satu pihak, berdasarkan analisis dari segi usia, pekerjaan, maupun pendidikan, kaum wanita itu tidak begitu menganggap penting penguasaan bahasa-ibu. Namun, di pihak lain, wanita ternyata lebih banyak menjadi anggota perkumpulan sosial yang berbahasa-ibu; lebih banyak wanita yang menginginkan agar anak-anaknya lebih banyak berbahasa-ibu daripada berbahasa Indonesia, dibandingkan dengan pria. Dalam kedua hal ini ternyata wanita lebih konservatif daripada pria.
            Penelitian di atas mengatakan ditinjau secara umum, dalam hal-hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri, wanita selalu cenderung mengarah kepada pemakaian bahasa Indonesia. Namun, dalam hal-hal yang berkaitan dengan masalah keluarga ada kecenderungan pada wanita untuk mempertahankan bahasa-ibu.
            Sikap wanita yang mendua sejalan dengan dugaan Elyan dkk. (1988) Wanita itu bersifat “androgini” (mendua). Menurut Elyan, wanita-wanita di kota-kota besar cenderung mendua; mereka ingin maju dan kuat (perkasa) seperti pria, namun tidak mau kehilangan kefemininannya.
            Namun, menurut data sensus, baik sensus tahun 1970 maupun sensus tahun 1980, pria lebih banyak yang mampu berbahasa Indonesia daripada wanita. Mengapa pria lebih banyak mampu berbahasa Indonesia? Basuki Suhardi (1987) mengira, hal itu ada kaitannya dengan tingkat pendidikan yang dicapai oleh pria. Jumlah laki-laki yang memperoleh pendidikan formal, dari SD sampai dengan perguruan tinggi, berdasarkan data sensus, memang lebih banyak dibandingkan wanita.

2.2 Perbedaan Gerak Badan, Ekspresi Wajah Suara, Intonasi, dan Fonem Antara Pria dan Wanita
            Dalam penelitian-penelitian linguistik kadang-kadang wanita tidak dipakai sebagai informan karena alasan-alasan tertentu. Wanita cenderung mempunyai sikap “hiperkorek” sehingga dianggap mengaburkan situasi yang sebenarnya dikehendaki oleh peneliti. Namun, dilain pihak, adapula linguis yang cenderung memakai wanita sebagai responden.
            Perbedaan pria dengan wanita mungkin tidak langsung menyangkut masalah bahasa atau strukturnya, melainkan hal-hal lain yang menyertai tuturan. Hal-hal lain tersebut antara lain adalah: gerak anggota badan, dan ekspresi wajah. Misalnya: dalam masyarakat Jawa, jika orang mempersilahkan orang lain yang dihormati untuk duduk ia akan ”mengacungkan ibu jarinya” untuk menunjukan tempat yang disediakan tamunya. Gerakan kepala dan ancungan ibu jari itu adalah gesture, yang berlaku untuk semua orang tanpa membedakan jenis kelamin.
            Dalam hal ekspresi wajah, dalam Bahasa Jawa ada sejumlah kata yang berkisar pada “ permaianan” mata atau bibir yang mencerminkan ekspresi wajah, dan banyak digunakan pada wanita daripada pria.
Misalnya, kalau jengkel, tidak berkenan tersinggung, matanya akan meleruk (Jawa), sedangkan pria akan melotot, wajahnya bisa mbesengut/mrengut Jawa). Bibirnya bisa mencucu (Jawa) atau mungkin menjeb (Jawa).
Jenis suara wanita berbeda dengan jenis suara pria. Jenis suara wanita misalnya alto dan sopran sedangkan pria ada suara tenor dan bas.
Dalam hal intonasi, antara wanita dan pria juga berbeda. Misalnya intonasi ‘memanjang’ pada bagian akhir kalimat lebih banyak wanita. Intonasi manja khas pada wanita atau aleman dalam bahasa Jawa. Bahasa ‘kenes’ lembut dan lambat tidak biasa diakukan pria.
Vokal pada tuturan wanita, dalam banyak logat atau ragam bahasa Inggris Amerika, telah ditempukan posisi lebih “meminggir” atau “menepi” (lebih kedepan, ke belakang, lebih tinggi atau lebih rendah) dibanding vocal pria.
Ada dua fonem yang khusus untuk pria dan untuk wanita dalam bahasa Yukaghir, Asia Timur Laut. Keduanya dilafalkan sama oleh anak-anak. Lafal kanak-kanak ini sama dengan lafal yang dipakai oleh wanita dewasa tetapi berbeda dengan pelafalan wanita usia tua. Lafal pria dewasa berbeda dengan lafal pada waktu kanak-kanak dan berbeda pula saat sudah tua.

            Kanak-kanak                           Dewasa                                               Tua
P          :/tz/, /dz/                                  /tj/, /dj/                                                 /cj/,/jj/
W        : /tz/, /dz/                                 /tz/,/dz/                                                /cj/,/jj/
Tampak bahwa wanita hanya sekali mengubah lafalnya, sedangkan pria terjadi dua kali perubahan lafal.
Perbedaan ragam pria-wanita mungkin tidak hanya berkisar pada tataran fonologi, melainkan juga pada tataran morfologi, kosakata, dan kalimat. Perbedaan-perbedaan bahasa ini tidak dapat diterangkan berdasarkan perbeadan sosial, dialek geografis atau etnik. Karena itu kita harus mencari penyebab yang lain, sebagaimana kita lihat pada paparan berikut.
Ketika orang-orang Eropa pertama kali tiba di Kepulauan Antillen kecil,dan Hindia Barat, dan mengadakan kontak dengan orang Indian Karibia yang tinggal disana, mereka menemukan pria dan wanita menggunakan bahasa yang berbeda. Pria mempunyai kosakata dan frase yang khusus untuk mereka. Para wanitanya pun memeiliki kosakata yang khusus digunakan untuk kaumnya, bila kosakata tersebut digunakan oleh pria maka akan dicemooh.
Penduduk pribumi kepulauan Dominika, menyatakan bahwa perbedaan tersebut dikarenakan adanya pemberontakan orang karibia. Para pria suku Arawak dibunuh dan para perempuannya dinikahi. Sehingga bahasa kaum pria berbeda dengan bahasa kaum wanita. Tetapi hal tersebut tidak dapat dibuktikan, sehingga hal tersebut hanya dugaan saja.
Seorang ahli bahasa, Otto Jespersen, memberikan penjelasan lain. Ia mengemukakan perbedaan itu mungkin akibat gejala tabu. Bila kaum pria Karibia akan maju ke medan perang, mereka menggunakan sejumlah kata yang tidak boleh diucapakn para wanita dan anak-anak, karena bila aturan tersebut dilanggar maka akan terjadi malapetaka.

2.3 Teori Tabu dalam Masyarakat

            Tabu berasal dari kata taboo yang dipungut dari bahasa Tonga, yang merupakan salah satu bahsa dari rumpun bahasa polinesia. Kata taboo merujuk pada tindakan yang dilarang atau harus dihindari. Bila tindakannya dilarang maka bahasa atau kata-kata yang merupakan symbol dari tindakan itupun dilarang. (Paul Ohoiwutun, 1997: 94).
Tabu memang berperan penting dalam bahasa. Masalah inipun disinggungdalam ilmu semantik. Ilmu ini memperhatikan tabu sebagai penyebab perubahan makna kata. Sejumlah kata yang ditabukan tidak dipakai kemudian diganti dengan kata lain yang sudah mempunyai makna tersendiri.
Dalam masyarakat Indonesia, terutama dalam bahasa daerah, seringkali dikatakan wanita lebih banyak menghindari penggunaan kata-kata kotor . kata-kata tersebut sepertinya ditabukan oleh wanita atau seolah-olah menjadi monopoli pria.
Di Zulu, Afrika, seorang istri tidak diperbolehkan menyebutkan nama mertua laki-laki atau saudara laki-laki mertua tersebut. Jika itu dilanggar, istri bisa dibunuh.  Dalam bahasa Zulu ada kata-kata tertentu yang tabu digunakan oleh wanita.
Di Malaysia juga terdapat kata-kata yang ditabukan, misalnya kata butuh ditabukan karena dianggap porno. 

2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perbedaan  Penggunaan Bahasa antara Pria dan Wanita
·         Teori Sistem Kekerabatan dalam Mayarakat
Perbedaan kosakata bukan karena masalah tabu akan tetapi akibat dari system kekerabatan dan system jenis kelamin. Sehingga dibedakan menjadi dua jenis  yaitu
a.                   Berdasarkan jenis kelamin penutur
Perbedaan kata didasarkan atas jenis kelamin penutur atau penyapa. Sebagaimana terjadi pada bahasa orang Indian Amerika. Dimana ketika menyebut kata “ayah saya” antara pria dan wanita berbeda dalam mengucapkannya.
contoh
                                    penutur pria                             penutur wanita
“ ayah saya ”               ijai                                           isupu
“ ibu saya “                  ipaki                                        ipapa

b.                  Berdasarkan jenis kelamin yang disapa
Pada dasarnya pada tipe ini penutur pria maupun wanita mengucapkan kata yang sama untuk memanggil orang yang disapa. Disini yang perlu diperhatikan adalah orang yang disapa jenis kelaminnya wanita ataukah pria.
Contoh
Ketika memanggil paman dan bibi baik
                                    Penutur pria                             penutur wanita
Paman                           paman                                       paman
Bibi                                 bibi                                          bibi             

  • Konservatif dan Inovatif
            Ragam bahasa yang digunakan oleh wanita lebih kuna dibandingkan dengan pria. Dimana tutur wanita lebih konservatif sedangkan pria bersifat inovatif atau pembaharuan. Gejala ini terjadi pada bahasa Chukchi, suatu bahasa yang digunakan di Serbia. Dalam bahasa ini wanita mempunyai konsonan intervokal pada beberapa kata, terutama /n/ dan /t/ yang tidak ada pada ragam pria.
Contoh
Pria                  : nitvaqaat
Wanita :nitvaqanat à ada huruf “n” diantara huruf a

  • Sikap Sosial dan Kejantanan

Bahasa kaum wanita bersifat intuitif penuh pertimbangan. Kata, bunyi dan tata kalimat pada bahasa dan kaum wanita memberi sumbangan cukup besar dalam membangun gaya dalam berkomunikasi yang lebih sopan.(Lakoff, 1975, 1977).
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi tata bahasa kelas social, etnik, umur, para wanita secara konsekuen menggunakan bentuk-bentuk yang lebih mendekati bentuk-bentuk ragam baku atau logat dengan prestise tinggi dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang digunakan pria. Akan tetapi pria dan wanita dibandingkan persentase wanita untuk semua kelas social selalu lebih daripada pria. Kaum wanita lebih peka terhadap dinodainya ciri kalimat baku itu, lebih setia pada gramatikal yang benar.  Para ahli membuat terkaan-terkaan antara lain:
a.                   Kaum wanita pada umumnya lebih sadar kedudukannya daripada pria
b.                  Tutur kelas pekerja mempunyai konotasi kejantanan, yang mengakibatkan kaum pria cenderung lebih menyukai bentuk bahasa yang nonbaku ( menyimpang dari yang baik).
Ragam bahasa berdasarkan kelompok etnik dan kelompok social adalah akibat dari jarak sosial, sedangkan ragam bahasa berdasarkan jenis kelamin adalah akibat dari perbedaan social.
  • Prestise Ter sembunyi
            Nilai sosial (social value) dan peranan jenis kelamin (sexs roles) dapat mempengaruhi sikap penutur terhadap sesuatu variasi kebahasaan tertentu. Penutur yang memperhatikan tuturannya secara linguistik akan cenderung untuk menggunakan ragam bahasa yang melambangkan status prestise ini, dan ini tampak pada wanita.
            Ada pendapat yang berkeyakinan bahwa ragam bahasa nonbaku dan kelas buruh rendahan itu juga mempunyai “prestise” dan ini khusus dimiliki oleh pria (yang umumnya adalah pekerja rendahan). Labov menanamkan jenis prestise ini sebagai  prestise tersembunyi atau prestise terselubung (cover prestige), sikap ini tidak diungkapkan dengan nyata dan terbuka. Bagi pria di Norwich (dan mungkin bagi pria dimana saja) tutur kelas buruh adalah penuh status (stastusful) dan berprestise (prestigious). Perbedaan ini menyebabkan perbedaan ragam bahasa yang digunakan oleh pria dan wanita.
            Tutur wanita, dalam masyarakat Koasati, terutama pada masyarakat Chuckhi, lebih konservatif dari pada pria. Artinya perubahan bahasa dipelopori oleh pria. Namun apabila terdapat sejenis ragam bahasa berstatus tinggi atau bernorma nasional (bukan regional, bukan dialek) perubahan ke arah norma ini lebih sering dipelopori oleh wanita. Di Hillsbore, Carilona utara misalnya, wanita menjadi pelopor perubahan dari norma prestise lama ke norma prestise yang baru.
            Perkembangan semacam itu juga terjadi di daerah Larvik di Norwich Selatan, dimana perubahan bahasa sedang terjadi. Di sini bentuk-bentuk yang berasal dari kota tersebar ke daerah pedalaman dan mengambil alih persebaran benetuk-bentuk lama asal pedesaan dan berstatus rendah. Kita dapat membedakan dalam beberapa keluarga dalam tiga tahap:
1.      Para bapak diwilayah pedesaan akan lebih konservatif pada anak-anak laki-laki mereka.
2.      Anak laki-laki lebih konservatif dari pada ibu-ibu dan saudara-saudara perempuan mereka.
3.      Para wanita lebih banyak kemungkinannya menggunakan bentuk-bentuk perkotaan yang lebih tinggi prestisenya daripada bentuk-bentuk pedesaan, dan secara keseluruhan menjadi satu generasi lebih maju daripada penutur pria.

Di Norwich wanitalah yang sebagai pelopor, meskipun perubahan yang terjadi agak kacau. Variabel yang diteliti di Norwich adalah vokal dalam kata seperti top, hot, dog. Lafalya ada dua jenis yaitu vokal-bundar (round vowel) seperti /o/ dalam tokoh dan vokal tak bundar (unrounded vowel) seperti /a/.

2.5 Ragam Bahasa Waria dan “Gay”           
            Waria (singkatan dari wanita-pria) atau wadam (Wanita-Adam atau Hawa-Adam) merujuk kepada orang-orang yang secara biologis atau fisik berkelamin laki-laki tetapi penampilan (berpakaian dan berdandan) serta berperilaku seperti atau mengidentifikasi diri sebagai perempuan. Uraian Dede Oetomo tentang bahasa Gay (atau Homoseks atau Homo), yang sebenarnya termasuk “bahasa rahasia”.Dede Oetomo meneliti Gay di Surabaya, bahasa mereka sebagaimana model bahasa “rahasia” lainnya, tampak “kelainannya” karena adanya jumlah kosakata yang khas yang berbeda dengan kosakata pada umumnya. Menurut Dede gay itu dwibahasa.
Bahasa mereka dapat ditinjau dari dua segi, yaitu:
(A)             Struktur pembentukan kaidah perubahan bunyi yang produktif dan teramalkan.
Ada dua jenis pokok
(A1)    yang berdasarkan kata bahasa jawa
            Contoh : banci                                                            siban
                          Lanang “laki-laki”                                         silan
                          Payu “laku”                                                   sipa
                          Wedok ‘perempuan”                                     siwet
                          Nyonya                                                         sinyon
           
Kaidah :
(a)                Ambil tiga bunyi pertama; konsonan (K) + vokal (V) + K
(b)               Tambah si di depannya
(c)                Bunyi K-akhir disesuaikan denyan kaidah umum dalam bahasa jawa : /y/ hilang, /ny/ menjadi /n/.

(A2)   yang berdasarkan kata-kata bahasa indonesia, dapat dibedakan menjadi dua juga;
(A2a) jenis katanya berakhir dengan –ong
            Contoh : banci                                                 bencong
  Homo                                                            hemong
 Maen “bersetubuh”                                                    meong

Kaidah :
(a)                Ambil tiga bunyi oertama : atau dua, jika K2 tidak ada.
(b)               Tambahkan –ong di belakangnya.
Bentuk menympang:
            Arab ‘orang Arab                                            erbong
Cina ‘orang Cina                                             pecenongan
            Perempuan                                                      prempewong;prempong
(A2b) jenis kata-katanya yan g berakhir dengan –s
            Contoh :  banci                                                bences
  Homo                                                            hemes
 Maen “bersetubuh”                                        mees

(B)              Penciptaan istilah baru atau pemberian makna istilah umum yang sudah ada.
(1)               Istilah yang merujuk pada orang atau sifatnya.
Siban, bencong, bences, siben, wadam, waria, banci, yongen, siyong = pemuda, remaja.
Jeruq, jerong, jeres      = pemuda, remaja
Sipul, polesong                        = polisi
(2)               Istilah yang merujuk pada tubuh, bagian tubuh dan kualitas tubuh:
Singgan, cekong, cekes, sicek, cucoq = ganteng, cakep
Sikon, sipel, kentes, siken                   = pelir, kelamin pria
Sisun                                                   = disunat
(3)               Istilah yang merujuk pada kegiatan seksual :
Rebong-rebong           = raba-raba
Singrat, greong            = hubungan seks yang gratis
Sistem tisu                   = sistem bergantian mitra dalam berhubungan seks
(4)               Istilah yang merujuk pada pola hubungan dan pergaulan :
Wil, wilseq                  = mau; tertarik
Singer (Jw : ngerti)      = tahu
Mbakyu                       = sebutan untuk waria/ gay feminim yang lebih tua
Jeng                             = sebutan untuk waria/ gayfeminim yang lebih muda

 KESIMPULAN

            Wanita dan  pria memiliki karakteristik yang berbeda dan kemampuan verbalnyapun berbeda. Perbedaan kemampuan verbal sering disebabkan oleh factor gerak anggota badan dan ekspresi wajah, suara dan intonasi, fonem sebagai ciri pembeda, pendidikan, pekerjaan, social dan kejantanan.
            Perbedaan bahasa bukan berarti dua bahasa yang sama sekali berbeda dan terpisah, tetapi bahasa mereka tetap satu, hanya saja dalam pemakaian bahasa lelaki dan perempuan mempunyai ciri-ciri yang berbeda. Wanita lebih mempertahankan bahasa mereka (konservatif) sedangkan pria bersifat inovatif dan pembaharuan.
            Suatu variasi bahasa adakalanya tabu untuk wanita, karena biasanya sering dihubungkan dengan hubungan perkerabatan, berburu, atau keagamaan sehingga orang-orang harus menghindari kata-kata tertentu, atau bunyi-bunyi tertentu dalam kata.

DAFTAR PUSTAKA

Sumarsono, dkk. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta: SABDA
Lauder, Multamia R.M.T. dan Basuki Sahardi. 1988. Sikap Kebahasaan Kaum Wanita. Jakarta: Makalah Seminar Sosiolinguistik II.
Elyan, Olwen et al. 1988. RP accented female speech: The Voice of Perceived Androgyny, dalam language, Gender, and Society.  Rowley Newbury House.
Suhardi, Basuki. 1987. Perkembangan Pemakai Bahasa Indonesia Menurut Sensus Penduduk1971 dan Sensus Penduduk 1980, dalam Muhadjir dkk. (eds.), Bahasa Indonesia Tahun 2000. Jakarta: FSUI.
Ohoiwutun, Paul. 1997. Sosiolinguistik memahami bahasa dalam konteks dan kebudayaan. Jakarta: Kesaint Blanc.